AhmadPosting
Eksperience...
Jumat, 24 Mei 2019
Kamis, 30 November 2017
Akuntansi Keuangan
Rumus-rumus Laporan Keuangan
RUMUS-RUMUS LAPORAN KEUANGAN
Laporan Keuangan
Rumus-Rumus Laba-Rugi
1. Laba/Rugi Usaha = Total Pendapatan Usaha – Total Beban Usaha
2. Laba/Rugi di Luar Usaha = Total Pendapatan di Luar Usaha – Total Beban di Luar Usaha
3. Laba/Rugi Sebelum Pajak = Total seluruh pendapatan – Total seluruh beban
4. Laba/Rugi Setelah Pajak = Laba/Rugi Sebelum Pajak – Pajak
5. Laba/Rugi Bersih = Total Pendapatan - Total beban - Pajak
Rumus-Rumus Modal
A1. Modal Akhir = Modal Awal + Laba Bersih – Prive
A2. Modal Awal = Modal Akhir – Laba Bersih + Prive
A3. Prive = Modal Awal + Laba Bersih – Modal Akhir
B1. Modal Akhir = Modal Awal + Seluruh Pendapatan – Seluruh Beban – Pajak - Prive
B2. Modal Awal = Modal Akhir – Seluruh Pendapatan + Seluruh Beban + Pajak + Prive
B3. Prive = Modal Awal + Seluruh Pendapatan – Seluruh Beban – Pajak - Modal Akhir
Rumus-Rumus Neraca
1. Aktiva Lancar = Kas + Piutang + Perlengkapan + DDM
2. Aktiva Tetap = (Mesin – Akum Peny. Mesin) + (Peraltan – Akum Peny. Peraltan) + (Gedung – Akum Peny Gedung) + (Kendaraan – Akum Peny. Kendaraan) + Tanah
3. Total Aktiva/Harta = Jumlah Aktiva Lancar + Jumlah Aktiva Tetap
4. Hutang Lancar = Utang usaha + utang Gaji + Utang listrik + Utang sewa + Utang wesel + Dll
5. Hutang Jangka Panjang = Utang Bank + Utang Hipotik + Utang Obligasi
6. Total Hutang = Jumlah Utang Lancar + Jumlah Utang Jangka Panjang
7. Modal = Total Aktiva – Total Hutang
Rumus-Rumus dalam bentuk format laporan
1. Laporan Laba Rugi
Pendapatan Usaha Rp xx
Beban Usaha Rpxx _
Laba /Rugi Usaha Rpxx
Pendapatan di Luar Usaha Rpxx
Beban di Luar Usaha Rpxx _
Laba/Rugi di Luar Usaha Rpxx +
Laba/Rugi Bersih Sebelum Pajak Rpxx
Pajak Penghasilan Rpxx _
Laba/Rugi Bersih Setelah Pajak Rpxx
2. Laporan Perubahan Modal
Modal Awal Rpxx
Laba Bersih Setelah Pajak Rpxx
Prive Rpxx _
Penambahan Modal Rpxx +
Modal Akhir Rpxx
3. Laporan Neraca
Bentuk Staffel/Laporan:
Aktiva
Aktiva Lancar
Kas Rpxx
Piutang Usaha/Wesel/Dagang Rpxx
Perlengkapan Rpxx
......DDM Rpxx +
Jumlah Aktiva Lancar Rpxx
Aktiva Tetap
Peralatan Rpxx
Akum Peny Peralatan Rpxx _
Rpxx
Mesin Rpxx
Akum Peny Mesin Rpxx _
Rpxx +
Jumlah Aktiva Tetap Rpxx +
Total Aktiva Rpxx
Pasiva
Utang Lancar/Jangka Pendek
Utang Usaha Rpxx
Utang Wesel Rpxx
Utang Gaji Rpxx
Dll Rpxx +
Jumlah Utang Jangka Pendek Rpxx
Utang Jangka Panjang
Utang Bank Rpxx
Utang Hipotik Rpxx
Utang Obligasi Rpxx +
Jumlah Utang Jangka Panjang Rpxx +
Jumlah Utang Rpxx
Modal
Modal............ Rpxx +
Total Pasiva Rpxx
Senin, 20 Maret 2017
Kamis, 16 Maret 2017
Selasa, 25 Oktober 2016
BAB I Karya Wisata Observatorium Bosscha Draf- Bandung 2016
BAB I
Pendahuluan
1.1.
Latar
Belakang
Perkembangan ilmu
astronomi sudah cukup lama dikenal di Indonesia namun penelitian secara
propesional baru di mulai pada tahun 1765 oleh John Maurits Mohr seorang
pendeta Belanda kelahiran Jerman yang tertarik dengan astronomi untuk itu dia
mendirikan observatorium di Batavia (kini kawasan Jakarta kota). Beberapa hasil
penelitiannya telah dipublikasikan melalui media Philophical Transaction dan
pada beberapa volume Verhandelingen der
Hall Maatsch Te Haarlem pada tahun 1761
dan 1769 setelah Mohr kegiatan penelitian berhenti. Kegiatan penelitian
astronomi mulai kembali di lakukan pada pertengahan abad ke-19 ketika astronomi
dari Utrechi (Belanda) bernama JAC Oudemans, ditugaskan untuk menentukan posisi
geografi lokasi-lokasi di Hindia Belanda dengan menggunakan pengamatan objek
langit.
Ide
untuk mendirikan observatorium di tanah
Jawa dimulai setelah kedatangan J. Vote, seorang astronom dari dinas magnetik
dan meteorologi Jakarta yang pernah bekerja sebagai astronom selama 5 tahun di
observatorium Cape Town, Afrika Selatan.
Kedatangan Vote ini menarik perhatian K.A.R Bosscha dan R.A Kerhoven kemudian
mengundang Vote ke Malabar untuk membicarakan kemungkinan mendirikan sebuh
observatorium. Salah satu alasan pemelihan kawasan lembang sebagai lokasi
tesebut adalah karnakondisi geologi yang stabil. Selain itu, lokasi
observatorium di Indonesia (Hindia Belanda) menjadikannya sebagai salah satu
observatorium yang mengamati belahan bumi selatan.
Kondisi geografis yang terletak pada
titik koordinat 107 37’ BT dan 6 49’ LS terdapat pada bumi belahan selatan dan
merupakan lokasi yang terdekat dengan
khatulistiwa. Kondisi topografi terletak pada ketinggian 1300 M di atas
permukaan laut dan 630 M di atas dataran tinggi Bandung. Kondisi meteorologi
dengan kecepatan angin rendah
temperatur minimun 16 C, maksimum 22 C.
Cuaca umumnya cerah (150-180 malam/tahun). Keadaan geoglogi daerah hard rock
dengan keadaan tanah stabil untuk menghindari terjadinya pergeseran kedudukan
lensa.Hal tersebut menjadi faktor utama
lokasi yang tepat dan sesuai untuk didirikannya observatorium Bosscha.
Penyerahan observatorium Bosscha dari
Netherlands Indische Sterenkundige (NIS) pada Indonesia dilakukan tanggal 18
oktober 1951 oleh Prof. Albada. Sejak saat itu, observatorium Bosscha resmi di
bawah penggelolaan Indonesia. Perkembangan astronomi menuntut penyediaan
teropong baru, maka bekerja sama dengan Unisco Rademakers
pemerintah RI dan berbagai pihak lainnya dibangun fasilitas baru yaitu
teropong SCHMIDT , teropong ini diresmikan pada tanggal 28 mei 1960 oleh
Unisco.
1.2.
Rumusan
Masalah
1.3.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui
lokasi Observatorium Bosscha dan untuk
mengetahui sejarah Observatorium Bosscha dan menambah pengetahuan siswa
mengenai perangkat teknologi yang ada di sana. Siswa juga dapat meyelesaikan
tugas yang diberikan mengenai persyaratan US/UN tahun 2016/2017, dengan
kunjungan kesana mereka juga diharapkan memiliki wawasan yang mendalam mengenai
Observatorium Bosscha.
1.4.
Manfaat
Penelitian
Siswa mendapat
pengalaman dalam hal cara pengoprasian teropong, serta bagaimana penelitian
yang di lakukakan oleh para astronom. Siswa juga dapat melepaskan kepenatan
dari segala aktifitas yang ada, jadi selain mereka berekreasi mereka juga
mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, dengan melakukan kunjungan ini
mereka dapat merasakan kenyamanan belajar yang langsung berintraksi dengan
kehidupan nyata.
BAB II
METODELOGI
2.1. Waktu Pelaksanaan
Hari
: Rabu
Tanggal
: 3 Agustus 2016
2.2. Peta Lokasi
2.3. Metode Yang Digunakan
2.4. Analisis Data
BAB III
ISI / PENJELASAN
3.1. Sejarah Singkat Observatorium Bosscha
Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht)
dibangun oleh Netherland Indische Sterrenkundiqe Vereniging (NISV) atau
perhimpunan bintang Hindia Belanda.
Pada rapat pertama
NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan
ilmu astronomi di Hindia Belanda. Didalam rapat itulah, K.A.R. Bosscha, seorang
tuan tanah di perkebunan teh bersedia menjadi penyandang dana utama dan
berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang.
Sebagai penghargaan
atas jasa K.A.R Bosscha dalam pembangunan observatorium ini maka nama Bosscha
diabadikan sebagai nama observatorium ini.pembangunan observatorium ini sendiri
menghabiskan waktu kurang lebih lima tahun sejak tahun 1923-1928 publikasi
internasional pertama observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun
kemudian observasi terpaksa dihentikan karena sedang berkecamuknya perang dunia
ke-2.
Setelah perang usai,
dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat
perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.
Kemudian pada tanggal
17 oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah. Setelah
Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, observatorium Bosscha
kemudian menjadi bagian dari RI dan sejak saat itu Bosscha di fungsikan sebagai
lembaga penelitian dan pendidikan formal astronomi di Indonesia.
Direktur
observatorium 1923 – 1940 : DR.Jawan Pulit.
1940-1942 : DR.Aernop
Desert
1942-1946 : Prof. DR
Masashi Miaji
1996-1949 : Prof. DR J. Hinnes
1949-1958 : Prof. DR
Galibruno Van Abada
1958-1959 : Prof. DR
O.V. Hok dan Santoso Nitisastro (pejabat sementara)
1959-1968 : Prof. DR
Depikntsihe
1968-1999 : Prof. DR
Bambang Hidayat
1999-2004 : DR. Motzi
Raharto
2004-2006 : DR. Dani
Herdi Wijaya
2006-2010 : DR.
Taufik Hidayat
2010-2012 : DR. Hakim
Lutfi Malasan
2012 sampai sekarang
: DR. Mahasena Putra.
3.2. Jenis Perangkat
Teknologi yang ada di Observatorium Bosscha
Antara lain:
. Teropong bintang
Zeiss
. Teleskop Bamberg
. Teleskop Schmidt
Bimasakti
. GotoS
. Unitron
3.3.Teropong Bintang
Zeiss
3.3.1. Pengertian
teropong Zeiss
Teropong zeiss adalah
teropong yang paling populer dikawasan observatorium bosscha. Rumah teropong
ini dibanggun pada tahun1923, dan merupakan karya K.C.P W SCHOEMAKER yang
pembangunanya mendapat bantuan dana dari K.A.R. BOSSCHA.
Fasilitas:
Kamar gelap, gedung
peralatan, ruang kerja,. Merupakan rumah teropong terbesar yang terdapat pada
kawasan. Lebih dikenal sebagai observatorium bosscha.
Demensi teropong:
Diameter lensa 60cm,
titikapi 10,7m, dilengkapi dengan teropong pencari (diameter 40cm) kisi-kisi
difraksi.
Fungsi teropong:
Menyelidik bintang
ganda, mengamati bintang dan planet, menyelidiki gerak bintang dalam gugusan
bintang.
3.3.2. Cara
Pengoprasian Teropong Zeiss
+) Menentukan
terlebih dahulu obyek yang akan di amati
+) Mengarahkan ujung
teleskop pada obyek pengamatan
+) Konstruksi
bangunan kubah dapat di buka selebar 3 meter dan kubah dapat di putar kesegala
penjuru arah, di sesuaikan denganletak obyek pengamatan
+) Lantai teleskop
dapat dinaikan dan diturunkan dengan daya listrik 10.000 watt, berfungsi untuk
memudahkan pengamatan benda langit yang terlalu rendah ataupun benda langit
yang cukup tinggi.
3.4.Jenis Pengamatan
yang Telah dilakukan
Setelah teropong Zeiss Besar selesai di
bangun pada tahun 1928, penelitian yang berkaitan dengan ilmu astronomi mulai
dilakukan secara lebih intensif. Jenis-jenis penelitian pada masa-masa awal ini
lebih di fokuskan pada:
a.
Pengamatan
Bintang Ganda
b.
Pengamatan
Bintang Variabel
c.
Pengamatan
Tata Surya tanpa matahari (astroid,komet,dll).
- Pengamatan
astrometri untuk penelitian orbit bintang ganda visual,
- Pengamatan
astrometri untuk penelitian gerak diri bintang dalam gugus bintang,
- Pengamatan
astrometri untuk keperluan pengukuran paralaks bintang untuk penelitian jarak
dan sistem kegandaan dari bintang-bintang yang berpasangan,
- Imaging, pengamatan
citra detail komet terang, kawah permukaan bulan, oposisi pelanet mars,
saturnus, dan yupiter.
3.5. Hasil dan
Prestasi Observatorium Bosscha dalam Dunia Astronomi
3.5.1. Hasil yang
pernah di dapat
Hasil yang pernah di
dapat diantaranya adalah adanya koleksi sekitar 10.000 data pengamatan bintang
ganda visual yang di peroleh dari pengamatan teleskop Zeiss.
3.5.2. Hasil yang
sudah dilakukan dan prestasi yang pernah diraih
Dalam pengamatan
benda angkasa, hasil yang pernah di dapat yang mendobrak ilmu pengetahuan
adalah menemukan bentuk galaksi bima sakti yaitu bentuk nya bergelombang.
Dan hasil lainnya
adalah:
- Mempublikasikan
karya ilmiah tentang bintang ganda visual, struktur galaksi, dan bintang
fariabel.
- Survai lengan
galaksi bima sakti
- Penelitian bintang
ganda
- Foto metri bintang
variabel
- Pengamatan pelanet
mars
- Pengamatan komet
halley
- Kataktriks
variabelkalisme
- Survai daerah
pembentukan bintang.
3.6. Hasil Observasi
di Ruang Multimedia
3.6.1 Ruang Multimedia
Ruang multimedia
merupakan ruangan berkapasitas 100 orang yang sat ini terutama digunakan untuk
menerima kunjungan publik. Ruang ini dilengkapi dengan sarana multimedia,
sehingga selain digunakan sebagai tempat ceramah astronomi populer untuk
pengunjung, ruang ini juga dapat dimanfaatkan untuk pemutaran
film-fiilm/dokumentasi ilmiah. Rata-rata dalam haari kunjungan publik, ruang
multimedia ini memberikan layanan sampai 600 orang.
Ruang multimedia ini
dibangun padatahun 1934 dan sejak awal ditujukan untuk demonstrasi publik.
Awalnya ruangan ini berisi alat-alat peraga ilmiah, peraga bola langit.miniatur
teleskop, dan sebagainya.
Observatorium bosscha
telah menerima kunjungan publik sejak tahun 1926. Namun sering dengan semakin
banyaknya permintaan kunjungan, ruang ini dimodifikasi menjadi tempat penerimaan
publik untuk penyampaian informasi astronomi. Dalam ruang ini terdapat patung
perunggu K.A.R Bosscha, patung tersebut merupakan cinderamata dari Perhimpunan
Astronomi Hindia Belanda pada Bosscha yang diserahkan saat penyerahan Teropong
Zeiss tahun 1928. Ketika ruang multimedia selesai dibangun, patung ini dipasang
secara permanen di gedung ini.
3.6.2 Observatorium Bosscha
Adalah salah satu
lembaga penelitian dengan program-program sepesifik. Dilengkapi dengan
fasilitas pendukung, observatorium ini merupakan pusat penelitian dan
pengembangan ilmu astronomi di Indonesia. Sebagai bagian dari fakultas
MIPA-ITB, observatorium bosscha memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan
pasca sarjana di ITB, khususnya bagi program studi astronomi, FMIPA-ITB. Penelitian
yang bersifat multi disiplin juga dilakukan di lembaga ini, misalnya di bidang
optikal, tekhnik instrumentasi dan kontrol, pengolahan data digital dan
lain-lain. Observatorium Bosscha berdiri pada tahun 1923. Observatorium Bosscha
bukan hanya observatorium tertua di Indonesia, tetapi masih satu-satunya
observatorium terbesar pertama di Indonesia. Yang dikelola oleh Institut dan
mengemban tugas sebagai fasilitator dari penelitian dan pengembangan astronomi
di Indonesia, mendukung pendidikan sarjana dan pasca sarjana astronomi di ITB,
serta memiliki kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam program pengabdian
masyarakat, melalui ceramah, diskusi, dan kunjungan terpandu ke fasilitas
teropong untuk melihat objek-objek langit, masyarakat diperkenalkan pada
keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya. Dengan ini, observatorium
bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah juga merupakan tempat bagi masyarakat
untuk mengenal dan menghargai sains. Dalam terminologi ekonomi modern,
observatorium bosscha berperan sebagai publik good.
Tahun 2004
observatorium bosscha dinyatakan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah.
Karena itu keberadaan observatorium bossca dilindungi oleh undang-undang nomor
2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya tahun 2008 pemerintah menetapkan
observatorium ini sebagai salah satu objek vital nasional yang harus diamankan
sebagai homebase pemerintah bagi penelitian astronomi Indonesia
BAB IV
PENUTUP
4.1.
kesimpulan
Dari
uraian di atas maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:
*
Bosscha adalah obyek wisata yang perlu di jaga kebersihannya, dan dikembangkan
baik dari segi fisik sarana dan prasarana, serta masih perlu di promosikan
dengan jalan menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas.
*
Bosscha merupakan Observatorium terbesar se-Asia. Pembangunan bosscha bertujuan
untuk lebih meningkatkan pendidikan khususnya di dunia astronomi dan
pengetahuan.
4.2.
Saran
Dari
uraian di atas kami memberikan saran sebagai berikut:
*
Kepada pengelola Bosscha agar lebih meningkatkan mutu pelayanan kepada para
pengunjung, menjaga Observatorium Bosscha dengan baik dan jangan membuat
kerusakan.
*
Kepada pengunjung agar tidak melakukan hal-hal yang mengakibatkan kerusakan
pada benda-benda yang ada di dalam gedung Bosscha, tidak membuang sampah
sembarangan karena Observstorium Bosscha merupakan tempat bersejarah yang perlu
kita lestarikan keindahan dan kenyamanan nya.
*
Kepada calon penulis selanjutnya jadikanlah karya ilmiah ini sebagai bahan
pertimbangan pembuatan karya ilmiah dimasa yang akan datang.
4.3. Penutup
Kami
bersyukur berkat rahmat Allah SWT. kami dapat menyelesaikan karya ilmiah ini
sebagai persyaratan untuk mengikuti UN/US di SMA MA’ARIF 4 LINGGA PURA Kecamatan
Selagai Lingga Kabupaten Lampung Tengah tahun 2016/2017.
Kami
menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan kami dalam menyusun karya
ilmiah ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun, demi sempurna nya karya ilmiah di masa yang akan datang.
Tidak
lupa kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan karya ilmiah ini.
Di
akhir kata kami mengharapkan Ridho Allah
SWT, dan semoga kita selalu dalam bimbinganNya.
AMIN.........
Daftar Mine
Daftar My ...?
Tanggal : ............Desember 19...
Laki-laki
Pendidikan :
- SD 6 Tahun
- MTs 3Tahun
- SMA 3 Tahun
- S1 5 Tahun
Langganan:
Postingan (Atom)


